Baru kali ini gw merasakan perjalanan yang begitu panjang untuk menuju daerah yang notabennya masih di wilayah Indonesia. Butuh 17 Jam untuk mencapai Poso! Yah..waktu yang cukup lama untuk membuat kaki keram, kepala pegal, dan wajah membiru karena mual. Profesi gw saat ini memungkinkan gw untuk menginjakkan kaki di wilayah yang sempat mengalami konflik horizontal. Berangkat dari Jakarta Pukul 12 siang, gw dan kawan-kawan liputan transit terlebih dahulu di Surabaya dan Makassar. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan ke Palu.
Tiba di Palu jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Warung makan adalah satu-satunya tempat yang kami pikirkan ketika sampai di kota tersebut. Usai melahap seafood di sebuah warung makan, kami pun melanjutkan perjalanan darat selama lima jam menuju Poso. Daerah yang harus kami lalui bisa dibilang tidak mudah. Selain melalui daerah bukit dengan jalan berliku, kegelapan malam juga menjadi salah satu faktor yang membuat jantung berdegup kencang. Saat menyusuri kebun kopi, gw pun melihat beberapa ekor sapi tampak merintangi jalan. Sedikit takjub! Di Jawa, sapi dibiarkan tengah malam sudah pasti hilang dicuri orang. Di Poso, tampaknya sapi sepi peminat…hehe
Kami tiba di Poso pukul 5 subuh, lelah dan kantung mata sudah menggelantung. Kami pun menyempatkan tidur beberapa jam di mess milik TNI. Sinar matahari yang menembus tirai jendela, membuat gw terbangun karena silau. Siang itu kami harus menuju sebuah tempat untuk meliput. Di dalam mobil, mata gw tidak bisa lepas dari indahnya pemandangan Pantai Tonipa Poso. Bentangan Pantai ini tepat mengikuti jalur trans Sulawesi. Kerennya..batin gw berkata. Ini bener-bener di luar imej gw tentang Poso selama ini. Poso adalah tempat yang sangat indah dengan perpaduan bukit dan lautan yang biru. Hari itu juga gw menyempatkan diri untuk mengambil foto pemandangan pantai Tonipa, setelah makan seafood dan sop saudara di sebuah rumah makan. Hmmm..satu kalimat yang gw bisa bilang adalah “Ga nyesel liputan ke Poso.”

